Thursday, May 5, 2016

DOA PENDAKI TIDAK DITERIMA

By : Bams Nektar
Inspirasi bagi Pendaki

Selesai sudah cita- cita ku untuk mendaki ke Tujuh puncak tertinggi di Indonesia. Paling tidak aku adalah salah satu yang manusia yang paling “beruntung” di negeri yang bagaikan surga ini. Dari sekian ratus juta penduduknya, aku adalah golongan yang sebagian kecil saja yang mempunyai kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Berdiri di atas dataran tertinggi di Nusantara untuk suatu waktu.



Aku menyelesaikan perjalanan pendakian inipun tidaklah terlalu lama. Tujuh puncak tertinggi di Indonesia tersebut mampu aku selesaikan dalam waktu yang relatif singkat, yakni 3,5 tahun saja. Bayangkan,,, hanya 3,5 tahun saja…

Hal itu juga bukanlah sesuatu yang terlalu berat bagiku, baik dari segi waktu, maupun dari segi dana.

Pekerjaanku di salah satu perusahaan swasta berlabel Penanaman Modal Asing (PMA) yang bergerak di bidang pengeboran minyak cukup memberikan waktu luang yang banyak untukku guna menjalani hobby mendaki gunung ini. Sistem kerja di perusahaan yang dua Minggu kerja dan dua Minggu kemudian untuk libur, sangat aku sukai. Aku punya waktu dua Minggu setiap bulannya untuk berleha- leha, liburan sana- sini, atau sekedar melakukan traveling ke beberapa daerah di Indonesia.

Duitnya ??? Jangan Tanya masalah duitnya !!! Dengan jabatanku sekarang sebagai salah satu supervisor ahli di bidang radiasi, itu sudah memberikan penghasilan yang empat kali lebih dari cukup bagi kehidupan sehari- hariku, apalagi aku juga belum berkeluarga, jadi tidak ada tambahan mulut yang harus diberikan makan, dibelikan baju, atau kebutuhan- kebutuhan lainnya.

Mencapai Tujuh puncak tertinggi di Indonesia ini semua seolah- olah adalah mimpi dan harapan yang menjadi nyata bagiku.

Aku masih ingat, saat masih sekolah dulu, tepatnya saat masih duduk di bangku SMP, aku dan Dean, adik laki- lakiku yang lebih muda dua tahun dariku, yang juga kebetulan terlahir bisu, sering shalat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya. Setelah selesai shalat kamipun masing- masing berdoa. Aku selalu mendoakan hal ini, bahkan mungkin doaku adalah doa terpanjang di dalam keluargaku :D . Berdoa agar aku dapat menginjakan kakiku di puncak- puncak tertinggi di Indonesia. Sedang adikku Dean, dia selalu berdoa dengan khusuknya, namun hanya sebentar saja. “Doa kilat”, ejekku. Namun Dean selalu membalas dengan senyuman saja setiap aku ejek demikian.

Di bangku SMA, saat aku mulai keranjingan dengan hobby naik gunung ini, sedang Dean mendapat musibah kecelakaan bermotor, sehingga kedua belah kakinya lumpuh. Jadilah saat ini, Dean adikku si bisu dan si lumpuh.

Walaupun lumpuh di atas kursi roda, Dean tetap saja adikku yang rajin beribadah. Kekurangan itu tidak membuat dia frustasi atau rendah diri. Doanya tetap khusuk, dan,,,, “Doa kilat”, ejekku… Dean tetap hanya tersenyum diejek demikian.

Karena bisu, kadang kami bercakap- cakap lewat goresan pena di atas kertas. Pernah suatu kali Dean menuliskan kalimat di kertas tersebut, “Abang, Dean pingin ikut mendaki gunung. Boleh, Bang ???”.

Aku hanya tertawa melihat tulisan tersebut. Dalam pikiranku, bagaimana Dean akan bisa mendaki gunung ? Dengan kursi roda ? Ngesot ??? . Dean seolah tahu apa yang aku pikirkan dan aku tertawakan, dia terdiam, wajahnya murung. Jahatnya lagi, aku hanya menepuk pundaknya sambil berkata, “Mungkin di kehidupan lainnya bro…”. Abang yang jahat…

Hari ini saat aku sudah merampungkan pendakian Tujuh puncak tertinggi di Indonesia tersebut, aku sempatkan pulang ke rumah untuk memberitahukan ke orang tuaku serta Dean adikku tentang keberhasilan mimpiku itu.

Aku sampai di rumahku yang terpencil di sebuah kampung saat shalat magrib berjamaah baru akan dimulai oleh ayah sebagai imamnya. Setelah shalat magrib selesai, seperti biasa Dean melakukan doa khusuk kilatnya di sampingku. Aku yang sedang berdoa jadi penasaran, semenjak kecil aku perhatikan doa yang dilakukan Dean sangat singkat dan kilat. Dan aku selalu mengejeknya. Namun sore tadi, selepas shalat magrib aku ingin sekali tahu apa yang didoakan oleh Dean sehingga doanya begitu singkatnya.

Rasa penasaran itu akhirnya aku tanyakan juga ke Dean. “Apa sih yang kamu doakan selama ini Dean ?. Kok singkat banget doa kamu selama ini ? “.

Dean hanya tersenyum, lalu mengambil kertas beserta pena yang ada di sampingnya. Menggoreskan beberapa kata di atas lembaran kertas tersebut, lalu memberikannya kepadaku.

Aku membaca dengan pelan goresan tangan Dean di atas kertas itu… Aku tiba- tiba malu kepada doa panjangku yang meminta dikabulkan untuk mencapai Tujuh puncak tertinggi di Indonesia, namun ternyata doa Dean yang dikabulkan. Aku tidak berani menatap mata Dean. Setidaknya sampai shalat Isya ditegakan. Bahkan aku tidak berani untuk menceritakan ke Ayah, Ibu atau Dean, bahwa aku sudah mencapai dan menginjakan kaki di Tujuh Puncak tertinggi di Indonesia. Aku malu…

Dean adikku, aku baru saja mengganti doaku, “Ya Allah ya Tuhanku, izinkan aku membawa dan menggendong Dean ke puncak- puncak gunung tertinggi di Indonesia, Ammiiinn…”.

Aku membaca ulang goresan tangan Dean di atas kertas itu. Sekali lagi…

Tulisan itu betul- betul telah meruntuhkan kesombonganku. Membenamkan kepongahanku ke dasar jiwa yang paling dalam. Aku langsung memeluk adikku Dean, menitikan air mata, dan berucap lirih di pundaknya, “Terima kasih Dean, ternyata doamu yang telah dikabulkan oleh Tuhan. Bukan doaku”.


Salam satu jiwa.

* * * *  *

“Ya Allah ya Tuhan-ku. Kabulkanlah doa saudara-ku. Ammiiinn”

Semoga jiwamu tercerahkan.

*B4MS*

* * * *  *

Bams mengajak untuk :

 “GUNAKAN HATI SAAT MENDAKI”

No comments:

Post a Comment