Sunday, April 2, 2017

POTONGLAH TALINYA

Edisi lebaran … Pendaki yang suka bawa tali harus baca…!

Adalah kebiasaan bagi kita yang beragama islam, saat merayakan lebaran saling mengunjungi antara satu dengan yang lainnya. Saling meminta dan memberi maaf untuk menyambung tali silahturahim antara sesama muslim. Demikian juga yang terjadi di komplek tempat saya berdomisili.



Beberapa hari yang lalu, saya kedatangan seorang tamu yang berlebaran ke kediaman saya. Seorang sahabat yang juga seorang pendaki, yang bekerja dalam profesi yang tidak saya sebutkan di sini. Dalam percakapan kami, sampailah pada titik di mana objek percakapan tersebut membahas masalah pekerjaan.

Sahabat pendaki tersebut bercerita bahwa di dalam pekerjaannya saat ini sangat sulit sekali untuk menghindari gratifikasi. Melakukan inspeksi ke lapangan sebagai job desk nya dia saat ini akan selalu berhubungan dengan yang namanya “amplop”. Isinya dengan jumlah yang bermacam- macam. Jika kita tidak mau menerima amplop tersebut, maka kita akan dijauhi oleh rekan- rekan sekerja. Dijuluki “Tuan sok suci” , diomongin macam- macam oleh teman sejawat. Kondisi tersebut jelas saja bertentangan dengan hati nuraninya yang ingin hidup tenang, bebas dari hal- hal kotor semacam itu. Dia bilang , “Dengan tidak melakukan hal- hal kotor semacam itu saja, Saya sudah sangat khawatir bagaimana kondisi Saya saat dihisab nanti di pengadilan Allah. Bagaimana lagi nantinya ditambah dengan masalah yang akan ditimbulkan oleh amplop- amplop yang tidak jelas itu”.

“Jadi, Bams,,, tolong bantu Saya, mungkin ada jalan keluarnya untuk masalah ini”, demikian ucapnya dengan wajah yang serius.

Saya sesaat terdiam, terus terang Saya tidak punya solusi untuk pertanyaan mendadak ini, yang juga berhubungan dengan karir serta penghasilan teman tersebut. Pikiran Saya malah berkelebat ke masa lalu saat Saya juga pernah mengikuti ujian masuk untuk menjadi seorang pegawai – untuk bidang profesi yang tidak saya sebutkan di sini guna menghormati profesi yang mungkin sahabat pendaki yang ada di grup ini juga menekuninya – namun saya tidak lulus dalam ujian tersebut.

Saat itu saya berpikir, apakah saya terlalu bodoh? Ah, IPK Saya 3,53 dengan predikat kelulusan nyaris cum laude. Yang lulus malah orang yang IPK-nya masih jauh di bawah saya. Mungkin gak yah, yang lulus itu adalah titipan dari anggota pejabat periode saat itu, atau membawa “surat sakti” dari salah satu keluarganya yang saat itu menjadi salah satu pejabat di suatu instansi?  Atau mungkin hanya karena faktor nasib belaka ?

Itu yang ada di pikiran saya saat itu. Namun saat ini saya betul- betul paham, bahwa garis hidup itu memang sudah ditakdirkan harus saya jalani dengan satu hikmah saja, yakni Allah memasukan saya ke dalam golongan orang- orang yang dijagaNYA. Allah menjauhkan saya dari hal- hal yang buruk, agar saya tidak bersinggungan dengan praktek pungli, dan diminimalisir dari masalah amplop di bawah meja, serta hal- hal buruk lainnya yang mungkin terbuka peluang itu dengan sangat luas di depan saya. Dan Saya  berbahagia karena saya telah dijaga untuk hal tersebut.

Tiba- tiba…. Cling…. Satu cerita dari pendakian muncul di kepala saya untuk menjawab persoalan yang diceritakan oleh sahabat pendaki saya yang sedang bertamu tersebut. Kira- kira ini yang saya sampaikan.  

Seorang pendaki gunung nan gagah berani mendaki sendirian ke puncak gunung yang sangat tinggi. Di tengah pendakiannya tiba-tiba kabut tebal menutupi jarak pandangnya, ia berjalan dengan sangat hati- hati. Namun itu tidak cukup aman, satu langkah yang salah dan dia terperosok ke satu jurang sempit di jalur pendakiannya, terguling dan melayang jatuh ke dasar jurang yang dalam dan gelap gulita.

Setelah sempat pingsan, dia tersadar sedang bergantung pada tali yang mengikat pinggangnya. Hal pertama yang dia ingat adalah untuk memohon pertolongan kepada Tuhannya.

Dengan badan yang masih lemah dan tidak menyadari entah berapa lama dia telah pingsan, dia berdo’a lirih “…Ya Rabb-ku, tolonglah aku…”

Kemudian dia tertidur lagi dengan lunglai. Di dalam tidurnya dia bermimpi, Yang Maha Penolong ‘berkata’ dengan penuh kasih sayang kepadanya : “…Apakah engkau yakin Aku bisa menolongmu…?”.

Si pendaki gunung langsung terbangun dan menjawab : “…Ya Rabb, aku yakin Engkaulah yang bisa menolongku…”, kemudian setelah beberapa lama menunggu, namun pertolongan belum datang, dia tertidur kembali dengan lunglai.

Mimpi yang kedua, Yang Maha Penolong datang lagi dan berkata : “Kalau begitu,
potonglah talimu…!”. Sang pendaki langsung terbangun dan berkata : “…Potong tali…?” , sambil seolah mempertanyakan petunjuk dalam mimpinya.

Dia melihat kanan-kiri, atas dan bawah – semuanya gelap, dia tidak bisa melihat apa-apa. Dia bingung dan lelah, kemudian tertidur lagi.

Mimpi yang ketiga hadir kembali. Hal yang sama : “…Potonglah talimu…!”. Lagi-lagi dia
terbangun dan bertanya kembali : “…Masak potong tali sih…?”. Dia kembali melihat sekitarnya yang tetap gelap. Dia tetap tidak dapat melihat apa-apa.

Dan dia tertidur lagi…

Mimpi yang keempat. Kali ini dengan nada perintah yang lebih jelas dan lebih keras : “…POTONG TALIMU…!!!”. Sang pendaki-pun tersentak kaget dan terbangun, tetapi
dilihatnya kanan- kiri, atas- bawah tetap gelap dan dia tidak melihat apa-apa. Dalam
kegalauan dan kelelahan yang luar biasa dia tertidur lagi. Kali ini dia tertidur untuk selamanya dan tidak terbangun lagi – MATI -.

Setelah pencarian beberapa hari, tim SAR akhirnya menemukan mayat sang pendaki gunung ini, terikat di pinggangnya – dengan kaki menggantung hanya satu meter dari permukaan tanah ! -.

“Nah, teman, saran saya adalah “Potong Talinya”. Secara kasarnya, berhenti dari pekerjaan yang sekarang, cari pekerjaan yang lebih membuat kamu tentram dan bisa tenang dengan bathinmu”.

“Wah, itu terlalu berat, Bams. Terlalu ekstrim. Pekerjaan ini gajinya bagus, lagipula saya sudah berkeluarga, mencari profesi yang lainnya belum tentu mendapatkan penghasilan yang lebih atau paling kurang sama dengan yang sekarang”, jawab teman tersebut.

“Yah, jika demikian, kamu akan selalu berkutat dengan masalah batin mu, ketentraman jiwa mu dan dibayang- bayangi terus dengan masalah beratnya hisab pada Hari Pembalasan nanti. Jawabanmu itu juga akan sama dengan yang dilemparkan oleh rentenir, pencuri, PSK, perampok, dan pencopet, dan profesi kotor lainnya. Saat rentenir, pencuri, perampok dan pencopet diberikan solusi untuk menjadi pemotong rumput, juru parkir atau tukang angkut barang di pasar, jawabannya juga begitu. Saat PSK diberikan solusi untuk beralih profesi menjadi tukang cuci, atau tukang gosok baju, atau asisten rumah tangga, jawabannya juga begitu. Padahal itu semua adalah pekerjaan yang halal. Jadi apa bedanya profesi kamu saat ini dengan profesi pencuri, perampok dan PSK?”, Tanya saya lagi kepada teman tersebut.

Itulah gambaran percakapan saya dengan teman saya, dan inilah juga gambaran dari rata- rata kehidupan kita di luar sana. Bila ditanya siapa yang memberi rezeki, akan langsung menjawab bahwa Allah-lah sang Pemberi Rezeki itu – tetapi pekerjaannya yang bergelimang dengan riba, korupsi, nepotisme dan sejenisnya tidak dapat ditinggalkan.

POTONGLAH TALIMU…!”. Jadikan hanya kepada Allah saja “tali”  tempat kita bergantung.

Gunakan hati saat mendaki.
Salam satu jiwa.

* * * *  *
Minal aidin wal faidzin buat semua sahabat pendaki saya di manapun berada …. Mohon maaf lahir dan bathin…..

Semoga jiwamu tercerahkan.

*B4MS*

* * * *  *

No comments:

Post a Comment