Sunday, April 14, 2019

Karena Milenial Ingin Dimengerti Di Kepri Melalui Hot Deals

Sepasang muda-mudi tampak berpindah dari satu konter ke konter pedagang di sebuah mall yang terhubung langsung ke Pelabuhan Ferry Internasional di Batam Centre, Batam, siang itu. Si wanita tampak menyentuh beberapa gelang yang terpajang di atas etalase pedagang souvenir, sementara si pria sedikit membungkuk untuk melihat jejeran cincin yang dipamerkan di dalam etalase tersebut. Mereka berdua sama-sama mengenakan kos oblong tipis dan celana pendek di atas lutut. Sesaat terdengar mereka berdiskusi dengan menggunakan bahasa Inggris dengan logat Singapura.


Pasangan muda-mudi ini bukan hanya mereka saja, setidaknya di sudut lain mall ini juga terlihat enam orang yang sebaya dengan mereka berjalan perlahan sambil melihat-lihat isi etalase di sekitar mereka. Masing-masing mereka memegang gelas minuman plastik dengan isi berwarna-warni. Sepertinya mereka baru saja membelinya dari konter minuman teh beraroma buah di belakang mereka, yang belum begitu jauh mereka tinggalkan.

Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di Kota Batam, terutama di mall-mall yang tumbuh menjamur setelah musim hujan. Ini adalah pemandangan di hari biasa, hari kerja bagi kebanyakan kita di Indonesia. Jumlah mereka akan berkali-kali lipat lagi di akhir Minggu, saat hari libur. Muda-mudi dari Singapura ini akan membanjiri Batam mulai dari Jumat hingga Minggu sore saat mereka pulang kembali ke Negara mereka.

Inilah salah satu potret kaum milineal yang mewakili gambaran rata-rata generasi milenial Asia atau mungkin dunia. Kaum ini dideskripsikan oleh para peneliti sebagai kaum yang lahir di awal 1980-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran mereka.

Karakteristik mereka berbeda berdasarkan budaya, wilayah dan kondisi ekonomi, namun umumnya ditandai dengan peningkatan penggunaan dan keakraban mereka dengan komunikasi, media dan teknologi digital. Pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberasi politik dan ekonomi, meskipun tentang ini masih diperdebatkan di sebagaian besar belahan dunia,

Generasi milenial ini bila dilihat dari sisi negatifnya merupakan pribadi yang pemalas, narsis, dan suka  berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Namun secara positif mereka merupakan pribadi yang terbuka, pendukung kesetaraan, memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekpresikan perasaannya, pribadi liberal dan optimis, serta menerima ide-ide dan cara-cara hidup.

Karena kedekatan mereka dengan teknologi dan media, mereka dapat ditandai dengan prinsip “No Gadget No Life”. Sedikit-sedikit posting segala macam bentuk kegiatan mereka, terlebih pada sesuatu yang baru mereka jumpai. Bagi mereka “Sharing is Cool”. Mereka selalu mencoba sesuatu yang baru, pengalaman baru di luar lingkungan keseharian mereka. Karena itu mereka lebih memilih pengalaman dari pada asset, jadi tidak heran jika perjalanan atau bepergian adalah salah satu hobby mereka.

Generasi milineal ini juga ditandai dengan sifat suka yang “Cepat dan Instan”. Sehingga untuk mengatur perjalananpun mereka biasanya mau yang gampang. Apalagi jika bukan menggunakan jasa operator tour and travel. Mereka tidak mau bersusah payah mengatur pernak-pernik perjalanan dan destinasi mana yang akan dituju. Serahkan saja semua dengan guide, kelar semua urusan!

Pengaruh Crossborder Tourism Terhadap Milenial

Di akhir tahun 2018 yang lalu, Batam sebagai salah satu kota yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia sudah sejak lama terlibat dalam crossborder tourism. Peningkatan kunjungan wisman ke Provinsi Kepri, yang diwakili salah satunya oleh Batam, memperlihatkan grafik yang cenderung terus bergerak naik. Sebagai gambaran, di tahun 2010, wisman yang masuk ke batam sebanyak 1.007.446 orang. Di 2015 sudah mencapai angka 1.443.955 orang, dan di tahun 2017 sudah tercatat 1,6 juta wisman.

Lalu di tahun 2019, pemerintah pusat menargetkan Batam dapat menyumbangkan kunjungan wisman ke Indonesia sebesar 1,8 juta orang, dan naik lagi di akhir tahun menjadi 2 juta orang. Setelah tutup tahun, target 2 juta itupun sudah terlampaui.

Menpar Arief Yahya dalam paparannya tentang program Hot Deals sebagai salah satu upaya peningkatan jumlah kunjungan wisman ke Batam dan Bintan di Batam, Kamis (11/4) mengatakan, dari jumlah 2 jutaan wisman yang masuk ke Batam di tahun 2018 lalu, sekitar 26%-nya adalah milenial. Angka ini jika dikalkulasikan akan menjadi sekitar 260 ribu milenial.

Pariwisata saat ini memang sebagai penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia setelah Crude Palm Oil (CPO). Devisa yang dihasilkan dari pariwisata ini sekitar 13,5 miliar USD di tahun 2017. Setahun kemudian angka tersebut bergerak naik menjadi 17,6 miliar USD di tahun 2018. Jika angka ini mampu menembus di atas 18 miliar USD di tahun 2019 ini, maka kita tidak heran bahwa pariwisata akan sangat mungkin menjadi nomor satu dalam menyumbang devisa bagi Indonesia.

Di sisi lain, Menpar Arief Yahya juga menjelaskan optimisme-nya tentang mengapa pariwisata dapat menjadi urutan pertama penyumbang devisa negara. Beliau menjelaskan bahwa CPO harganya fluktuatif, kadang naik, dan bisa juga turun. Sedangkan pariwisata tidak, bahkan cenderung naik setiap tahunnya.

Karena itu, Menpar Arief Yahya berani menargetkan di 2019, milenial yang berkunjung ke Kepri akan naik jumlahnya 50%. Artinya, setiap 1 juta kunjungan wisman, 500 ribunya adalah kaum milenial.

Tentunya Menpar Arief Yahya sudah berhitung dengan angka ini. Apalagi Batam-Bintan menunjukan progress yang menggembirakan dengan program Hot Deals-nya di tahun 2018 yang lalu. Lebih dari 700 ribu paket Hot Deals terjual dalam kurun waktu tersebut, padahal program tersebut diluncurkan pada akhir semester. Melihat geliat program ini, Menpar sudah menargetkan 1 juta Hot Deals terjual di tahun 2019.

Berfikir Secara Milenial

Hot Deals yang terjual di Batam-Bintan di tahun 2018 lalu cukup menggembirakan karena dapat dikatakan melebihi targetnya yang ditetapkan sebanyak 500 ribu paket. Dari 700 ribu paket Hot Deals yang terjual, tentu saja sebagiannya laku keras diborong oleh kaum milenial, terutama Singaporean dan ekspatriat yang ada di Singapura.

Namun, jika Indonesia betul-betul serius untuk menggarap pasar milenial, kita tentunya dapat mencapai target 50% wisman milenial. Dari target wisman ke Kepri yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebesar 4 juta wisman – ini 20% target total wisman Indonesia sebanyak 20 juta di tahun 2019 – artinya milenial yang dibidik harus datang ke Batam-Bintan adalah sebesar 2 juta wisman. Kerjasama tim pentahelix sangat diharapkan untuk menggapai tujuan ini. Terutama bagaimana pemerintah daerah Batam-Bintan menyusun suatu trik jitu yang dapat memacu pertumbuhan wisman milenial.

Jika pasarnya adalah milenial, berarti kita juga harus berfikir secara milenial!

Menariknya, Kepri sendiri, terutama Batam-Bintan belum memetakan secara detail asset-asset yang berhubungan dengan milenial yang akan menjadi amunisi kota ini untuk membidik wisman milenial.

Treatment untuk mileneal tentunya sedikit lebih unik untuk wisman kebanyakan. Untuk menjaring wisman mileneal kita membutuhkan event mileneal, destinasi mileneal, dan promosi yang juga milenealisme. Ada 114 event di dalam Calender Of Event (COE) Kota Batam dan 16 event di dalam COE list Bintan, dan diantara jumlah tersebut, berapa event yang mileneal friendly?

Dari sekian banyak destinasi wisata yang tersebar di Batam dan Bintan, berapa banyak yang milenial grade? Jika event dan destinasi wisata di Batam-Bintan saja kita belum mempunyai datanya yang cocok untuk milenial, pekerjaan kita untuk mempromosikannya akan menjadi sangat complicated!

Untuk itu, sejalan dengan pemikiran Menpar Arif Yahya, Dinas Pariwisata daerah harus menilik masalah ini lebih intens. Solusinya mungkin dapat membuat suatu tim khusus dengan jumlah anggota yang tidak terlalu gemuk, namun kapabilitasnya dalam pariwisata sudah teruji, untuk mengumpulkan data-data ini secepatnya. Ingat, Menpar juga sudah menyinggung masalah speed di dalam pengembangan pariwisata. Jika lelet atau lambat, kita akan tertinggal. Target 2 juta wisnus milenial di Batam-Bintan hanya tinggal harapan.

Tim khusus ini selain mendata secara detail tentang destinasi dan event milenial di Batam-Bintan, nantinya juga dapat membuat spec guideline tentang klasifikasi destinasi dan event milenial. Mereka dapat menentukan grade seperti apa yang harus dipenuhi guna mendapat milenial tourism lable. Jika semua ini sudah terealisasi, tentunya memasarkannya melalui 13 titik Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di pasar yang kita bidik akan lebih mudah, terarah, dan terorganisir dengan baik.

Quarter pertama baru saja berakhir dengan masuknya bulan April 2019. Batam-Bintan sudah kehilangan waktu tiga bulan guna merumuskan formula tersebut. Mengejar ketertinggalan selama tiga bulan belakangan, untuk merumuskan dan membentuk tim khusus, atau apapun bentuk dan namanya bagi segmen milenial ini tidak dapat ditunda lagi. Slogan “Time is money” berlaku di sini.

Milenial Tourism Dalam Tourism Hub

Jika digabungkan antara Singaporean dan Non Singaporean yang saat ini berada di Singapura, ada 24 juta orang yang sangat berpotensi sebagai pasar Pariwisata Kepri, terlebih Kepri sudah didukung oleh akses yang baik dari Singapura ke Batam atau Bintan. Wisman hanya butuh waktu 1 jam perjalanan laut untuk mencapai Kepri dari Singapura. Secara geografis, Kepri diuntungkan dalam hal ini.

Karena geografis yang menguntungkan ini, wajar bila Singapura dijadikan transportation hub dan tourism hub bagi Kepri. Dijadikan transportation hub karena direct flight tidak cukup seats capacity-nya. Karena itu harus menggunakan transit ke Singapura, Malaysia dan Bangkok, sebelum terbang ke Indonesia. Sedangkan secara tourism hub, pasar nyata yang dekat dengan Kepri, Batam-Bintan adalah Singapura. Singapura punya lebih dari 18 juta wisman setahun yang datang. Juga hampir 6 juta warga singapura. Dari sanalah wisatawan itu ditransfer ke Indonesia, Sekaligus menggunakan konsep crossborder di zona barat.

Saat ini ada 70 flight per minggu dari Singapura ke India. Ini artinya ada 10 flight per hari. Potensi wisman asal India sangat besar dilihat dari data ini. Selain itu, kini wisman dari Tiongkok juga mulai harus diperhitungkan. Sebagai contoh, di Bintan saat ini perharinya tercatat sebanyak 500 orang wisman Tiongkok yang menjadi pelancong di pulau ini.

Oleh karena itu, konsep Hot Deals digabungkan dengan tourism hub sudah tepat. Tinggal aplikasinya dilapangan yang kita pastikan berjalan dengan baik. Paket Hot Deals menggarap wisman yang datang dari Singapura dengan paket yang murah meriah di weekdayOrang akan datang jika cost di bawah 100 SGD untuk berdua, untuk melihat sesuatu yang baru, dengan penawaran perjalanan yang kompetitif.

Namun kembali, jika kita menyasar milenial, tentunya paket Hot Deals yang disiapkan juga harus menarik bagi milenial. Mereka perlu sesuatu yang baru yang sesuai dengan selera mereka. VITO dapat menjembatani hal ini. Selain sebagai kantor pemasaran di luar negeri, VITO dapat misalnya menyebarkan kuisioner secara online kepada milenial di sana untuk mengetahui jenis ketertarikan wisata yang bagaimana yang dibutuhkan oleh milenial. Hasilnya nanti dibikin dalam bentuk daftar ketertarikan yang lebih spesifik, misalnya kuliner, konser, budaya, dan lain-lain.

Berdasarkan hasil kuisioner inilah nantinya Batam-Bintan dapat meng-create event yang unik sesuai dengan selera milenial. Saat event tercipta, VITO akan kembali ke korespondennya dalam bentuk promosi wisata.

Hal ini sesuai dengan paparan Menpar Arief Yahya, kita terapkan dua pola sekaligus yang dikerjakan secara parallel, yakni secara Online dan Offline yang dilakukan untuk menggarap Tourism Hub itu. Secara Online, Travel Agent di Singapore bekerja menggaet wisman yang sudah berada di Singapura, seperti, Trip.Com, Xpedia.Com, dan Booking.Com. Travel agent konvensional juga yang akan mengelola group dan paket-paket wisata ke Kepri.

Jangan dilupakan juga Johor yang berjarak 2 jam perjalanan dari Batam. Kita juga akan terus mengembangkan Hot Deals di Johor. Program Hot Deals dari Johor ke Batam-Bintan segera diberbesar dan diperbanyak paket-paket menariknya. Johor juga berebut pasar wisman dari Singapura yang notabene juga merupakan sumber aliran wisman kita. Apalagi dengan pengembangan kawasan pelancongan terpadu Desaru Coast di Johor Tenggara yang sedang digesa oleh mereka. Mereka sedang gencar memasarkan kawasan tersebut ke Singapura dan Indonesia.

Walaupun Kota Batam sudah menyatakan siap untuk dibanjiri oleh wisman yang masuk dari Singapura dengan gambaran bahwa para operator kapal penyeberangan sudah sepakat untuk menambah jadwal penyeberangan rute Singapura-Batam, yang dari sebelumnya 105 kali mejadi 111 kali pulang pergi disetiap hari kerja pada lima terminal ferry internasional di Batam. Bahkan operator ferry Dolphin juga menambah jadwal penyeberangan untuk rute Malaysia-Batam di hari kerja. Jangan hanya kapal atau jadwal penyeberangan saja yang ditambah, paket dan destinasi milenial kitapun harus di upgrade menyesuaikan selera milenial negeri jiran.

Pesan dari penulis untuk masalah ini jelas, yakni target dari improvement destinasi dan event mileneal ini adalah agar milenial yang datang ke Batam-Bintan untuk mendapatkan suatu pengalaman yang berkesan atas kunjungan mereka, sehingga mereka melakukan “Reorder” terhadap paket yang sama atau paket yang sudah dimodifikasi, dengan membawa lebih banyak teman atau sahabat mereka ke Batam-Bintan untuk merasakan pengalaman tersebut.

Dari pemaparan ini dapat kita tarik suatu gambaran kesimpulan yang memerlukan tindakan cepat dan lebih lanjut, diantaranya; Pertama, bentuk tim yang memetakan dan mengidentifikasi tentang sumberdaya wisata milenial di Batam-Bintan atau Kepri. Kedua, cari informasi tentang selera milenial di negeri tetangga melalui VITO. Ketiga, create event yang sesuai dengan selera milenial berdasarkan informasi dari VITO. Keempat, modifikasi destinasi wisata atau bikin destinasi baru sesuai dengan selera milenial, tentunya peran masyarakat dan pengelola destinasi wisata diharapkan dalam hal ini. Kelima, promosikan event dan destinasi milenial yang sudah ada tersebut melalui VITO kembali.

Semua ini harus digesa secepat mungkin di semester pertama ini, jika perlu sebelum semester ini berakhir, semua sudah berjalan baik. Dengan demikian di semester kedua tahun 2019 ini kita sudah dapat melihat hasilnya, dan target 50% wisman milenial bukan hanya igauan semata di "Ruang Dansa" pariwisata Indonesia.

“Indonesia dapat menjadi yang terbaik di bidang industri pariwisata di Asia Tenggara” (Arief Yahya, Rapat Stakeholders Program Hot Deals. Batam, Kamis 11 April 2019)

Bams@2019

No comments:

Post a Comment