Monday, August 1, 2016

SAAT PENDAKI DIINTIP DARI LUBANG PIPET

Pendaki yang punya visi pasti baca tulisan ini …

By : Bams Nektar
Inspirasi bagi Pendaki #32

Menembak dengan senapan angin adalah salah satu hobby saya di masa lalu, atau tepatnya di sepanjang masa masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan di masa SMP saya pernah mendapatkan juara satu untuk menembak di kejuaraan antar kecamatan sekabupaten.



Awalnya untuk menembak tersebut saya sering curi- curi kesempatan untuk menggunakan senapan angin milik Papa. Saat Papa bekerja, itu adalah kesempatan saya untuk menggunakan senapannya, dan harus segera saya kembalikan ke tempatnya semula sebelum Papa pulang dari bekerja untuk menghindari murkanya jika mengetahui anaknya bermain- main dengan senapan angin.

Saat memasuki masa SMA, saya sudah mendapatkan izin untuk menggunakan senapan angin tersebut. Mungkin Papa beranggapan bahwa saya sudah cukup dewasa dan sudah dapat bertanggung jawab dalam menggunakan senjata tersebut. Karena sudah mendapat izin, malah saya jadi lupa waktu dalam menggunakannya. Dari siang setelah pulang dari sekolah hingga malam haripun saya masih bermain- main dengan senjata tersebut. Berburu kalong (kelelawar) saat Matahari mulai tenggelam ternyata mempunyai daya tarik sendiri bagi saya.

Mungkin sahabat pendaki akan bertanya, “bukankah perburuan itu akan kontrapoduktif dengan pelestarian alam ?”. Awalnya saya juga berpendapat demikian. Namun setelah menelaah dari beberapa sumber, ternyata perburuan untuk mengeliminasi binatang yang merugikan, apalagi binatang tersebut bukan yang dilindungi adalah diperbolehkan, bahkan perburuan adalah salah satu bantuan bagi petani. Binatang yang merugikan tersebut digolongkan sebagai hama. Jadi hal ini tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi pecinta alam mungkin saja mereka menggolongkannya ke dalam salah satu jenis perusakan terhadap ekosistim. Namun bagi petani hal ini mereka pandang sebagai suatu bantuan yang menguntungkan.

Semua orang pasti mempunyai cara pandang tertentu terhadap sesuatu. Tidak semua orang berpendapat sama, tergantung dari perspektif mana mereka melihatnya. Teroris bagi suatu kaum bisa jadi adalah pahlawan bagi kaum lainnya. Contohnya Usman Harun yang melakukan pengeboman di Singapura pada masa konfrontasi.

Adalah Harun Said dan Usman Hj Mohd Ali, dua anggota KKo (Korps Komando Operasi - kini dikenal dengan Korps Marinir) yang diberangkatkan ke Singapura dengan menggunakan perahu karet. Tugasnya adalah menyabotase kepentingan-kepentingan Malaysia dan Singapura.

Kemudian beberapa pengeboman pun terjadi di negara itu, namun pada peristiwa pengeboman MacDonald House (10 Maret  1965) di gedung Hongkong and Shanghai Bank  yang terletak di Orchard Road, Singapura, yang membuat tiga orang meninggal dunia dan sedikitnya 33 orang cederai, mereka tertangkap.

Pemerintah Singapura mengatakan bahwa Indonesia  mengirimkan orang-orang yang bertujuan menyabotase keadaan di Singapura dan Malaysia.  

Pengadilan Singapura kemudian memutuskan keduanya dihukum gantung pada tahun 1968. Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masyarakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa ke Tanah Air.

Begitu juga konflik yang terjadi saat ini di Palestina. Bagi Israel dan Amerika, Bangsa Palestina mungkin disebut sebagai teroris, pengacau atau pemberontak. Namun bagi Bangsa Palestina sendiri, mereka disebut pejuang. Hal ini terjadi di seluruh konflik di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebutan yang cocok hanya disematkan kepada pemahaman kita terhadap cara pandang kita akan hal tersebut.

Melihat dari persfektif yang berbeda ini juga sangat penting bagi seorang pendaki. Di status atau postingan sahabat pendaki di hampir semua grup pendaki di FB, ada saja sahabat pendaki yang bersikap skeptic dan sinis terhadap hobby ini. Apalagi orang yang berada di luar hobby ini, mereka akan lebih antipati terhadap hobby ini, karena mereka melihatnya dari sisi yang berbeda. Mereka hanya melihatnya dari persfektif yang berseberangan saja dari persfektif kita sebagai pendaki.

Misalkan sahabat pendaki melihat bahwa hobby mendaki ini menyehatkan badan, orang lain akan melihatnya sebagai membuang- buang waktu saja. Sahabat pendaki melihat hobby ini sebagai hobby yang menambah teman dan saudara, orang lain akan melihatnya sebagai kegiatan buang- buang uang saja.

Tidak perlu marah akan hal tersebut. Toh, perbedaan pandangan itu lumrah terjadi di segala bidang, bukan hanya di bidang pendakian gunung saja. Sahabat pendaki yang skeptic dan sinis atau orang lain yang belum mengerti mungkin hanya perlu “sedikit” di re-framing (membingkai ulang sudut pandang) saja agar persfektif mereka dapat disamakan dengan persfektif kita.

Bagaimana cara me-reframing sahabat pendaki yang skeptic dan sinis serta orang- orang yang tidak paham hakekat hobby ini? Saya kutip sedikit informasi dari internet tentang psikologi reframing ini.

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak- anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"
Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”
“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita “membingkai ulang” sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar, karena itu artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst...

Sahabat pendaki, jika anda bertemu dengan orang- orang skeptic dan sinis terhadap hobby mendaki gunung ini, mungkin inilah saatnya menerapkan metode reframing ini. Mungkin inilah saatnya sahabat pendaki atau orang yang tidak memahami tentang hobby mendaki gunung untuk “mengintip” para pendaki melalui “lubang pipet” , bukan melalui kaca mata, kaca pembesar atau binocular seperti biasanya untuk melihat,  misalnya :

Saya BERSYUKUR :

Saya bersyukur menjadi seorang pendaki, karena itu berarti saya bukan menjadi seorang pencuri.

Saya bersyukur mungkin merusak sedikit habitat tumbuhan dan binatang di jalur pendakian, karena itu berarti masih ada hutan dan rimba sebagai paru- paru dunia.

Saya bersyukur mungkin membuang- buang duit saya di hobby ini, dan itu berarti saya tidak membuang- buang duit saya untuk berjudi.

Saya bersyukur mungkin membuang- buang waktu saya untuk mendaki, itu berarti saya tidak membuang- buang waktu saya untuk narkoba atau tawuran.

Saya  bersyukur, dst….

Salam satu jiwa.

* * * *  *

Yang melihat hewan itu dari depan, menggambarkan hewan itu seperti ular. Yang melihat hewan itu dari samping, menggambarkan hewan itu seperti batu. Yang melihat hewan itu dari belakang, menggambarkan hewan itu seperti kerbau. Yang melihat hewan itu dari segala sisi paham betul bahwa itu hewan itu disebut gajah.

Semoga jiwamu tercerahkan.

*B4MS*

* * * *  *

Bams mengajak untuk :

 “GUNAKAN HATI SAAT MENDAKI”

No comments:

Post a Comment