Sunday, December 3, 2017

100 HARI SETELAH AKU MATI DI GUNUNG


Apa yang akan terjadi setelah 100 hari jika anda mati di gunung?

By : Bams Nektar
Inspirasi bagi Pendaki #47

Tulisan ini sebenarnya menyambung tulisan terakhir saya beberapa waktu yang lalu di blog ini juga.

Apa yang akan terjadi dalam 100 hari jika seandainya saya mati di gunung, baik jika jenazah saya tidak pernah ditemukan, atau jenazah saya ditemukan?



Di tulisan ini saya akan merekonstruksi, kira- kira apa saja yang akan terjadi kepada jenazah saya, keluarga saya, sahabat- sahabat saya, gear saya, dan dunia kependakian yang telah saya rasakan. Hiks… Tisu, mana tisu ?

Jika jenazah saya tidak pernah ditemukan, barangkali ini yang telah terjadi kepada jenazah Sang Pendaki ini. Jatuh di jurang, sehingga beberapa tulang patah, mungkin kepala retak atau pecah, atau juga tertusuk kayu yang runcing, yang menjadi penyebab kematian. Mungkin juga diterkam harimau Sumatera, atau macan kumbang Jawa, dipatuk ular atau disengat tawon, bisa juga dibunuh oleh perompak gunung dan jenazah saya dibuang begitu saja tanpa penghormatan sama sekali di jurang terjauh. Siapa yang tahu?

Jika jenazah saya ditemukan atau ada, kondisinya mungkin lebih “beruntung”, bisa utuh atau tidak utuh sama sekali, karena sebagiannya sudah ada di dalam perut harimau Sumatera. Sebagai informasi, tubuh kita akan terurai di alam, baik itu dikuburkan di dalam tanah, atau terbaring begitu saja di permukaan tanah.

Kira- kira gambarannya secara medis begini ya sob…

Sesaat sebelum mati, jantung saya berhenti berdetak, nafas saya tertahan dan badan saya bergetar. Saya mungkin merasa dingin di telinga. Darah saya berubah menjadi asam dan tenggorokan sayapun berkontraksi.

0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak saya kehabisan suplai oksigen.

1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 - 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 - 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.

1 - 4 Jam
Rigor Mortis (Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 - 6 Jam
Rigor Mortis (Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol yang masih terus berjalan.

8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 - 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 - 48 Jam
Rigor Mortis (Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) berhenti, Tubuh saya selentur penari balerina.

3 - 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 - 10 Hari
Warna tubuh saya akan berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu
Rambut, Kuku, Dan Gigi saya dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan
Kulit  saya mulai lumer, mencair.

Satu Tahun
Selain tulang-belulang tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh saya. Saya yang sewaktu hidupnya, gagah perkasa dengan urat otot menonjol mantan atlet panjat tebing, ganteng rupawan dengan scarf kuning melilit di kepala seperti foto PP di account Fb saya, bisa jadi kaya dan sangat berkuasa – ngarep -, sekarang hanyalah tumpukan tulang- belulang yang menyedihkan.

Hancurnya jenazah saya mungkin akan sedikit mundur atau jenazah saya akan terawetkan dengan baik jika ternyata saya wafat di trek ke puncak Everest. Bisa saja jenazah saya dijadikan tanda jalur di kemudian hari oleh para pendaki lainnya atau paling parah, teman untuk berselfi – dengan mayat – tentunya.

Jika jenazah saya ada, sesuai dengan syariat kepercayaan yang saya anut, saya akan dimandikan. Yang memandikan bisa saja kawan seperjalanan, atau team medis, atau petugas rumah sakit. Setelah itu saya akan langsung dikuburkan, bisa jadi di jalur pendakian, atau di pekuburan umum di daerah terdekat dengan nisan kayu papan yang enam bulan kemudian mungkin sudah hancur dimakan rayap. Jika lebih “beruntung”, mungkin, ini mungkin yah… anak- anak saya yang masih mungil ikut memandikan saya, jenazah abbi mereka di atas pangkuan mereka sambil berurai air mata, bahkan si keenan yang baru berumur dua tahunan belum tahu kalau abbi-nya tidur untuk selama- lamanya, dia sambil memangku kaki saya mungkin asik bermain air untuk memandikan jenazah saya, seperti dia biasa asik bermain air hujan.

Jika keluarga atau orang tua saya bersikeras bahwa jenazah saya harus dikirimkan ke Batam atau ke kampung halaman saya di Kerinci, maka setelah dimandikan, saya akan diformalin, dibungkus kain kafan, lalu selembar plastic lagi sebagai pembungkus terluar. Setelah itu saya akan dimasukan ke dalam peti mati warna coklat berpelitur indah mengkilap. Pada tahap ini saya sudah dihitung sama dengan barang lainnya, ditimbang dan dihargai sekitar Rp. 29.000,- per Kg- nya, lalu dikirim dengan skala prioritas ke alamat yang tercantum di depan peti mati dengan lampiran copy surat kematian, surat keterangan sudah diformalin, dan surat bebas karantina.

Alunan serine ambulan akan menjadi music pengiring saya saat saya dijemput di bandara. Namun, saat ini sedikit berbeda. Yang biasanya saya dijemput di terminal kedatangan, sekarang saya dijemput di terminal cargo air port untuk kedatangan barang.

Sesampainya di rumah, tenda dan kursi untuk pelayat sudah terpasang. Demikian juga bendera putih di simpang jalan. Keluarga saya akan menangis seperti yang biasa kita lihat di sinetron, mungkin beberapa sahabat juga menitikan air mata – entahlah - , lalu saya akan dibawa ke masjid terdekat untuk dishalatkan kembali.

Setelah dishalatkan, saya akan dibawa ke perkuburan umum di mana lubang ukuran 1 x 2 sudah menunggu menganga. Saya diturunkan ke liang lahat di mana sudah ada empat orang yang menunggu di dalamnya. Memiringkan jenazah saya, membuka kain kafan muka dan kaki saya, lalu mungkin anak tertua saya akan mengumandangkan azan. Papan- papan pembatas – barzakh – ditutupkan miring di atas saya, lalu tanah sedikit demi sedikit menutupi liang sampai akhirnya liang tersebut penuh dan membentuk sebuah gundukan. Terakhir, gundukan tersebut di hiasi papan nisan kayu tertulis nama saya, tanggal lahir dan tanggal kematian saya, dan diperindah dengan siraman air serta tebaran berbagai macam bunga.

Beberapa orang mungkin saja menangis di saat itu, mungkin juga ada yang hanya diam mengingat kenangan kebersamaannya bersama saya. Namun pada akhirnya semua akan meninggalkan saya 2 meter di bawah kaki mereka. Yang ada setelah itu keheningan yang nyata dan rasa cemas saya yang akan menghadapi pertanyaan dari malaikat kubur.

Tiga malam berturut- turut lantunan surah Yaa siin akan mengalun di rumah saya. Ucapan belasungkawa mungkin juga membanjiri account FB saya dengan sad reacted (reaksi sedih), tebakan saya sih, jumlahnya paling banyak 300an, 10 persen dari total teman- teman dunia maya saya. Setelah itu account FB tersebut akan fakum…

Ada juga mungkin tradisi tujuh harian dengan membaca surah yaa siin di rumah saya. Beberapa sahabat datang, namun banyak di antara mereka tidak sempat karena kesibukan, Cuma menyatakan maaf di grup FB atau grup whatsapp. Beberapa gear saya mungkin akan dibagikan oleh istri saya ke sahabat yang sempat hadir sebagai kenang- kenangan. Scraf merah dan carrier deutter 26L warna biru buat si A, scraf hijau dan carrier consina 50L warna merah buat si B, carrabiner orange dan pisau trekking buat si C, dan seterusnya sampai tersisa beberapa barang kenangan buat disimpan sendiri oleh istri saya.

Setelah tujuh hari, sahabat saya akan mulai melupakan saya, beberapa mungkin masih mengingat saya dalam bentuk yang sangat samar. Bahkan mereka mengingat saya sambil berkelakar, setelah itu tertawa bersama mengingat hal- hal lucu atau tolol yang mungkin pernah saya lakukan.

Memasuki hari ke 30 sampai hari ke 40 kematian saya, mungkin ada sedikit acara doa di rumah saya. Keluarga sudah tidak sesedih semula dan sudah mulai bisa menerima ketiadaan saya. Sahabat? Mungkin bisa dihitung dengan jari yang mengingat  saya. Jika rindu itu datang, mereka akan membuka account FB saya dan melihat album foto pendakian mereka bersama saya. Mungkin ada satu atau paling banyak dua orang yang masih mau menuliskan rasa kangen naik gunung bareng di wall FB saya.

Hari ke 100 dari kematian saya tidak terlalu berbeda. Sedikit doa dengan sangat sedikit kehadiran para sahabat. Bahkan account FB sayapun sudah terlupakan.

Lewat dari 100 hari dari kematian saya? Tidak ada yang berubah… . Para sahabat tetap mendaki, memburu sunrise, menggapai puncak. Para pendaki muda terus bermunculan di sana sini bak jamur di musim hujan. Kebakaran hutan terjadi seperti biasa di musim kemarau, dan beberapa pendaki tetap akan ada yang hilang atau tewas di jalur pendakian, menyusul saya, ke haribaan Sang Bumi. Sepi…

Gunakan hati saat mendaki.
Salam satu jiwa.

* * * *  *
Pada akhirnya kita semua akan sendiri. Berbaring tengadah di dalam Bumi. Sepi… (Bams).

Semoga jiwamu tercerahkan.

*B4MS*           

* * * *  *

Bams mengajak :
“GUNAKAN HATI SAAT MENDAKI”

No comments:

Post a Comment